Jumat, 13 Januari 2012

Makalah Psikologi Perkembangan



“PERKEMBANGAN KONSEP DIRI
(SELF CONCEPT)”




Disusun Oleh
Hesti Medianti
















BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian tentang konsep diri. Konsep diri adalah kemampuan seorang individu untuk dapat mengenali dirinya sendiri, sehingga ia mampu mengarahkan dirinya sendiri, sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.

B.  Rumusan Masalah
1.    Apakah yang dimaksud dengan konsep diri ?
2.    Apa saja dimensi dari konsep diri?
3.    Bagaimanakah hubungan konsep diri dengan perilaku?
4.    Bagaimana kedudukan konsep diri terhadap prestasi belajar pada masa remaja?
5.    Bagaimana karakteristik perkembangan konsep diri anak usia sekolah?
6.    Bagaimana perkembangan konsep diri peserta didik terhadap pendidikan?









BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Konsep Diri Menurut Para Ahli :

1.    BURNS
Konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu.
2.    WILLIAM D. BROOKS
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.
3.    CENTI
Konsep diri adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan.
4.    HURLOCK
Konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.
5.      RAKHMAT
Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Misalnya bila seorang individu berpikir bahwa dia bodoh, individu tersebut akan benarbenar menjadi bodoh. Sebaliknya apabila individu tersebut merasa bahwa dia memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan, maka persoalan apapun yang dihadapinya pada akhirnya dapat diatasi. Ini karena individu tersebut berusaha hidup sesuai dengan label yang diletakkan pada dirinya. Dengan kata lain sukses komunikasi interpersonal banyak bergantung pada kualitas konsep diri seseorang, positif atau negatif.
Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.
Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.
B.  Dimensi Konsep Diri
1.    Pengetahuan tentang diri anda
Adalah informasi yang anda miliki tentang diri anda. Misalkan jenis kelamin, penampilan, dan sebagainya.
2.    Pengharapan bagi anda
Adalah gagasan anda tentang kemungkinan menjadi apa kelak.
3.    Penilaian terhadap diri anda
Adalah pengukuran anda tentang keadaan anda dibandingkan dengan apa yang menurut anda dapat dan seharusnya terjadi pada diri anda. Hasil pengukuran tersebut adalah rasa harga diri.

C.  Hubungan Konsep Diri dengan Perilaku
Konsep diri akan memunculkan sikap positif dan negatif.
1.    Konsep Diri Negatif
Anda memiliki penilaian NEGATIF pada diri Anda sendiri. Anda tidak merasa cukup baik dengan apapun yang Anda miliki dan merasa tidak mampu mencapai suatu apapun yang berharga. Jika hal ini terus berlanjut, maka Anda akan menuntun diri Anda sendiri ke arah kelemahan emosional. Anda mungkin akan mengalami depresi atau kecemasan secara tetap, kekecewaan emosional yang lebih parah dan kualitasnya mungkin mengarah pada keangkuhan dan keegoisan. Anda telah menciptakan suatu penghancuran terhadap diri anda sendiri.
2.    Konsep Diri Sedang
Anda berada di persimpangan antara kepemilikan konsep-diri positif dan konsep-diri negatif. Ada kalanya anda bisa dan tidak bisa menerima keadaan diri sendiri. Jika konsep-diri negatif semakin berkembang daripada konsep-diri positif, maka Anda akan menuntun diri Anda sendiri ke arah kelemahan emosional. Anda mungkin akan mengalami depresi atau kecemasan secara sama, kekecewaan emosional yang lebih parah, dan kualitasnya mungkin mengarah ke keangkuhan dan keegoisan. Tetapi apabila anda dapat menguasai konsep diri yang positif, maka anda akan lebih bisa menguasai diri anda sendiri, dan dapat mengontrol diri secara rasional.
3.    Konsep Diri Positif
Anda memiliki penilaian POSITIF pada diri Anda sendiri. Anda mengenal diri Anda secara baik. Anda memiliki penerimaan diri yang kualitasnya lebih mungkin mengarah ke kerendahan hati dan ke kedermawanan. Anda dapat menyimpan informasi tentang diri sendiri – informasi negatif maupun positif. Anda seorang yang optimis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Anda menganggap hidup adalah suatu proses penemuan. Anda berharap kehidupan dapat membuat diri Anda senang, dapat memberikan kejutan, dan memberikan imbalan. Dengan menerima semua keadaan diri Anda maka Anda juga dapat menerima semua keadaan orang lain.
Dimensi konsep diri dipengaruhi oleh factor psikologis seperti kebahagiaan seorang individu dalam rentang kehidupannya. Oleh karena itu kebahagiaan dianggap sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan seseorang.
Meltzer dan Luwig dalam bukunya “Age Differences in memory optimism and pessimism in workers” pada tahu 1967 melaporkan bahwa kebahagiaan pada berbagai periode dlam usia dewasa diingat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan keluarga, perkawinan, kesehatan yang baik, dan prestasi-prestasi. Sedangkan ketidakbahagiaan diasosiasikan dengan penyakit, luka-luka fisik, meninggalnya seseorang yang dicintai, pengalaman-pengalaman dalam ketidakberhasilan bekerja, dan kegagalan mencapai tujuan-tujuan.
Sears dalam bukunya “ Sources of life satisfaction of the Terman gifted men” melaporkan bahwa orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi cenderung menganggap kepuasaan hidup cenderung lebih banyak berasal dari keluarga daripada dari keberhasilan dai prestasi kerja. Sebalinya bagi  remaja dan anak-anak meletakan rasa kepuasan hidup paling tinggi terhadap popularitas dan diterimanya ia dalam anggota kelompoknya.
Fakta paling serius tentang ketidakbahagiaan adalah bahwa perasaan itu dapat menjadi suatu kebiasaan. Dan seperti halnya kebiasaan dapat berkepanjangan, semakin dalam berakar dan semakin sulit untuk diubah. Oleh karena itu, orang-orang yang cenderung tidak bahagia pada masa kecilnya, cenderung tidak bahagia di masa depannya.. Oleh sebab itu ketidak bahagiaan dapat menimbulkan hancurnya penyesuaian diri dalam kehidupan seseorang.
D.  Kedudukan Konsep Diri Terhadap Prestasi Belajar Masa Remaja
Berikut merupakan kondisi-kondisi yang mempengaruhi konsep diri remaja :
1.    Usia kematangan
Remaja yang matang lebih awal, yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa, mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik. Remaja yang matang terlambat, yang diperlakukan seperti anak-anak, merasa salah dimengerti dan bernasib kurang baik sehingga cenderung berperilaku kurang dapat menyesuaikan diri.
2.    Penampilan diri
Penampilan diri yang membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbendaan yang ada menambah daya tarik fisik. Tiap cacat fisik merupakan sumber yang memalukan yang mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya, daya tarik fisik menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang cirri kepribadian dan menambah dukungan social.
3.    Nama dan julukan ( Labelling )
Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman sekelompok menilai namaya buruk atau bila mereka member nama julukan yang bernada cemoohan.
4.    Hubungan Keluarga
Seorang remaja yang mempunyai hubungan erat dengan salah seorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang itu, dan ia ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama. Bila tokoh ini sesama jenis, remaja akan tertolong untuk mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya.
5.    Teman-teman sebaya
Teman-teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara. Pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-teman tentang dirinya dan kedua, ai berada dalam tekanan untuk mengembangkan cirri-ciri kepribadian yang diakui oleh kelompok.
6.    Kreativitas
Remaja yang semasa anak-anak didorong agar kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang memberi pengaruh yang baik pada konsep dirinya. Sebaliknya, remaja yang sejak awal masa anak-anak didorong untuk mengikuti pola yang sudah diakui dan kurang mempunyai perasaan identitas dan individualitas.
7.    Cita-cita
Bila remaja mempunyai cita-cita yang tidak realistic, ia akan mengalami kegagalan. Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi  bertahan di mana ia menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Remaja yang realistik tentang kemampuannya lebih banyak mengalami keberhasilan daripada kegagalan. Ini akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasaan diri yang lebih besar yang memberikan konsep diri yang lebih baik.
Apabila seorang remaja semenjak masa kanak-kanak telah mendapat rangsangan yang baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, ataupun teman sebaya, maka individu tersebut akan menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggalnya.
Masa remaja adalah sebuah masa seseorang dapat mengembangkan bakat dan kreativitas dengan seluas-luasnya, maka seorang remaja hendaknya diberi ruang gerak yang luas dan  memberikan kesempatan pada mereka untuk mengembangkan kemampuan dan segala potensi dalam dirinya dengan semaksimal mungkin, namun dalam hal ini orang tua sebagai tempat sosialisasi awal sudah seharusnya tetap memberikan batasan-batasan yang tidak kaku, namun bersifat mendidik, agar remaja tahu bagaimana cara untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Apabila seorang invidu mampu mengkonsep dirinya dengan baik semenjak masa anak-anak dan remaja, maka secara otomatis, ia akan dapat berpikiran positif dan berusaha untuk selalu menggali segala potensi dalam dirinya, untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirnya sendiri dan orang lain, dan keinginan tersebut akan mengarah pada cita-cita yang ingin diraih oleh individu tersebut dalam kehidupannya.
Apabila seorang individu tak dapat mengkonsep dirinya dengan baik, maka hal itu akan membuat seorang individu terperosok dalam jurang kesengsaraan dan ketidak bahagiaan dalam hidupnya, sehingga individu dengan konsep diri negative sangat riskan terhadap keputus asaan dalam hidupnya.
Sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas bahwa kebahagiaan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, maka berikut ini akan kami uraikan beberapa faktor yang yang dapat mempengaruhi kebahagiaan seseorang sebagai modal untuk dapat mengkonsep diri dalam kehidupannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan :
1.   Kesehatan
Kesehatan yang baik memungkinkan orang pada usia berapa pun untuk dapat menjalankan aktivitasnya.
2.   Daya tari fisik
Daya tarik fisik individu menyebabkan individu dapat diterima oleh mayarakat, sekaligus dapat memperoleh prestasi lebih baik, dari individu yang kurang menarik.
3.   Tingkat Otonomi
Semakin besar otonomi yang dicapai, semakin besar kesempatan untuk merasa bahagia.
4.   Kesempatan-kesempatan di luar interaksi bersama keluarga
Di tingkat usia apa pun seseorang akan lebih bahagia apabila mereka memperoleh kesempatan untuk dapat berhubungan social dengan orang-orang di luar anggota keluarganya.
5.   Jenis Pekerjaan
Semakin sibuk seseorang, maka kehidupannya pun menjadi kurang bahagia dan puas.
6.   Status kerja
Semakin berhasil seseorang dalam menjalankan tugas, maka hal itu dapat dihubungkan dengan prestise (penghargaan) , karena itu semakin besar pula kepuasan yang ditimbulkan.
7.   Kondisi kehidupan
Seseorang yang dapat berinteraksi dengan baik terhadap keluarga, teman, dan masyarakat akan semakin menambah kepuasaan hidup.
8.   Pemilikan harta benda
Ini mengenai bagaimana seseorang dapat menikmati apa yang dia miliki.
9.   Keseimbangan antara harapan dan pencapaian
Apabila sebuah harapan itu realistis, maka orang akan puas dan bahagia apabila tujuannya tercapai.
10.    Penyesuaian emosional
Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dan bahagia, tidak terlalu mengungkapkan perasaan negative, seperti marah atau tersinggung dalam bergaul.
11.    Sikap terhadap periode usia tertentu
Perasaan-perasaan bahagia, juga ditentukan oleh pengalaman yang pernah ia lewati, pada peride-periode tertentu.
12.    Realisme dan konsep diri
Orang yang terlampau yakin pada kemampuannya lebih besar dari yang sebenarny aakan merasa tidak bahaia jika tujuan mereka tidak tercapai.
13.    Realisme dan konsep-konsep peran
Apabila peran mereka yang baru tidak sesuai dengan harapan mereka, mereka tidak akan merasa bahagia, kecuali mereka dapat menerima peran mereka tersebut sebagai seorang anggota masyarakat baru, yang dituntut untuk lebih dewasa dari peran mereka sebelumnya.

E.  Karakteristik Perkembangan Konsep Diri Anak Usia Sekolah
Awal masa kanak-kanak merupakan kelanjutan dari masa bayi (lahir – usia 4 th) yang ditandai  dengan terjadinya perkembangan fisik, motorik dan kognitif (perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku), psikosial serta diikuti oleh perubahan – perubahan yang lain.
1.      Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada masa ini lambat dan relatif seimbang. Peningkatan berat badan anak lebih banyak dari pada panjang badannya. Peningkatan berat badan anak terjadi terutama karena bertambahnya ukuran sistem rangka, otot dan ukuran beberapa organ tubuh lainnya.
2.      Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik pada usia ini menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan masa bayi. Anak – anak terlihat lebih cepat dalam berlari dan pandai meloncat serta mampu menjaga keseimbangan badannya. Untuk memperhalus ketrampilan – ketrampilan motorik, anak – anak terus melakukan berbagai aktivitas fisik yang terkadang bersifat informal dalam bentuk permainan. Disamping itu, anak – anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti senam, berenang, dll. Beberapa perkembangan motorik (kasar  maupun halus) selama periode ini, antara lain :
a). Anak Usia 5 Tahun
·      Mampu melompat dan menari.
·      Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan dan badan.
·      Dapat menghitung jari – jarinya.
·      Mendengar dan mengulang hal – hal penting dan mampu bercerita.
·      Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya.
·      Memprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya.
·      Mampu membedakan besar dan kecil.
b). Anak Usia 6 Tahun
·      Ketangkasan meningkat.
·      Melompat tali.
·      Bermain sepeda.
·      Mengetahui kanan dan kiri.
·      Mungkin bertindak menentang dan tidak sopan.
·      Mampu menguraikan objek-objek dengan gambar
c). Anak Usia 7 Tahun
·      Mulai membaca dengan lancar.
·      Cemas terhadap kegagalan.
·      Peningkatan minat pada bidang spiritual.
·      Kadang malu atau sedih.
d). Anak Usia 8 – 9 Tahun
·      Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat.
·      Mampu menggunakan peralatan rumah tangga.
·      Ketrampilan lebih individual.
·      Ingin terlibat dalam sesuatu.
·      Menyukai kelompok dan mode.
·      Mencari teman secara aktif.
e). Anak Usia 10 – 12 Tahun
·      Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh  yang berhubungan dengan pubertas mulai tampak.
·      Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci, menjemur pakaian sendiri , dll.
·      Adanya keinginan anak untuk menyenangkan dan membantu orang lain.
·      Mulai tertarik dengan lawan jenis.
3.    Perkembangan Kognitif
Dalam keadaan normal, pada periode ini pikiran anak berkembang secara berangsur – angsur. Jika pada periode sebelumnya, daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, maka pada periode ini daya pikir anak sudah berkembang ke arah yang lebih konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada pada stadium belajar.
Menurut teori Piaget, pemikiran anak – anak  usia sekolah dasar disebut pemikiran Operasional Konkrit (Concret Operational Thought), artinya aktivitas mental yang difokuskan pada objek–objek  peristiwa nyata atau konkrit. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indera, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya. Dalam masa ini, anak telah mengembangkan 3 macam proses yang disebut dengan operasi – operasi, yaitu :
a). Negasi (Negation), yaitu pada masa konkrit operasional, anak memahami hubungan–hubungan antara benda atau keadaan yag satu dengan benda atau keadaan yang lain.
b). Hubungan Timbal Balik (Resiprok), yaitu anak telah mengetahui hubungan sebab-akibat       dalam suatu keadaan.
c). Identitas (Identition), yaitu anak sudah mampu mengenal satu persatu deretan benda-benda yang ada.
Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut ditunjukkan. Jadi, pada tahap ini anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkanya dapat berfikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata. Dalam perkembangan kognitif, terdapat 4 macam perkembangan :
a.    Perkembangan Memori
Selama periode ini, memori jangka pendek anak telah berkembang dengan baik. Akan tetapi, memori jangka panjang tidak terjadi banyak peningkatan dengan disertai adanya keterbatasan – keterbatasan. Untuk mengurangi keterbatasan tersebut, anak berusaha menggunakan strategi memori (memory strategy), yaitu merupakan perilaku disengaja yang digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu :
1.   Rehearsal (Pengulangan) : Suatu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulang berkali-kali informasi yang telah disampaikan.
2.   Organization (Organisasi) : Pengelompokan dan pengkategorian sesuatu yang digunakan untuk meningkatkan memori. Seperti, anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam satu kelas.
3.   Imagery (Perbandingan) : Membandingkan sesuatu dengan tipe dari karakteristik pembayangan (abstraksi) dari seseorang.
4.   Retrieval (Pemunculan Kembali) : Proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Ketika suatu isyarat yang mungkin dapat membantu memunculkan kembali sebuah meori, mereka akan menggunakannya secara spontan.
Selain strategi-strategi memori diatas, terdapat hal lain yang mempengaruhi memori anak, seperti tingkat usia, sifat anak (termasuk sikap, kesehatan dan motivasi), serta pengetahuan yang diperoleh anak sebelumnya.
b.    Perkembangan Pemikiran Kritis
Perkembangan Pemikiran Kritis yaitu pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber serta mampu befikir secara reflektif dan evaluatif.
c.    Perkembangan Kreativitas
Dalam tahap ini, anak-anak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan sekolah.
d.   Perkembangan Bahasa
Selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berfikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.

4.    Perkembangan Psikososial
Pada tahap ini, anak dapat menghadapi dan menyelesaikan tugas atau perbuatan  yang dapat membuahkan hasil, sehingga dunia psikosial anak menjadi semakin kompleks. Anak sudah siap untuk meninggalkan rumah dan orang tuanya dalam waktu terbatas, yaitu pada saat anak berada di sekolah. Melalui proses pendidikan ini, anak belajar untuk bersaing (kompetitif), kooperatif dengan orang lain, saling memberi dan menerima, setia kawan dan belajar peraturan – peraturan yang berlaku.
Dalam hal ini proses sosialisasi banyak terpengaruh oleh guru dan teman sebaya. Identifikasi bukan lagi terhadap orang tua, melainkan terhadap guru. Selain itu, anak tidak lagi bersifat egosentris, ia telah mempunyai jiwa kompetitif sehingga dapat memilah apa yang baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan mulai melakukan identifikasi terhadap tokoh tertentu yang menarik perhatiannya.
5.    Perkembangan Pemahaman Diri
Pada tahap ini, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Ia lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik eksternal.
6.    Perkembangan Hubungan dengan Keluarga
Dalam hal ini, orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan periode sebelumnya, karena rata-rata anak menghabiskan waktunya di sekolah. Interaksi guru dan teman sebaya di sekolah memberikan suatu peluang yang besar bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan ketrampilan sosial.
7.    Perkembangan Hubungan dengan Teman Sebaya
Berinteraksi dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu. Umumnya mereka meluangkan waktu lebih dari 40% untuk berinteraksi dengan teman sebaya dan terkadang terdapat duatu grup/kelompok. Anak idak lagi puas bermain sendirian dirumah. Hal ini karena anak mempunyai kenginan kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok.

F.  Konsep Diri Peserta Didik Terhadap Pendidikan

1.    Konsep diri dan pengaruhnya terhadap pencapaian akademik siswa.
Konsep diri merupakan seperangkat instrument pengendali mental dan karenanya mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang.  Gunawan (2005) menyebutkan bahwa  seseorang yang mempunyai konsep diri positif akan menjadi invidu yang mampu memandang dirinya secara positif, berani mencoba dan mengambil resiko, selalu optimis, percaya diri, dan antusias menetapkan arah dan tujuan hidup.   Terkait dengan pencapaian akademik, hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh  Shupe dan Yager (2005) dan Yeung dan Marsh dalam O’Mara dkk (2006) menunjukkan bahwa konsep diri dan pencapaian akademik siswa adalah dua hal yang saling memperngaruhi.  Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam berbagai tingkatan mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguran tinggi, seseorang dengan konsep diri yang positif cenderung memiliki pencapapaian akademik yang lebih baik. 
          Bagaimakah sebenarnya konsep diri dapat mempengaruhi pencapaian akademik seseorang?  Atau sebaliknya, bagaimanakan pencapaian akademik mempengaruhi konsep diri seseorang?   Tripp Jr (2003), Shupe dan Yager (2005) mengemukakan bahwa seseorang dengan konsep diri positif akan mempunyai kemampuan interpersonal dan intrapersonal yang baik pula, yang memungkinkan untuk melakukan evaluasi secara obyektif terhadap dirinya sendiri.  Sementara itu menurut Germer (2004), konsep diri merupakan kunci untuk membangun komunikasi terbuka antara guru dan murid sehingga mnciptakan partisipasi aktif antara keduanya dalam kegiatan belajar mengajar.   Baik Germer dan Yager, menyimpulkan bahwa dengan konsep diri positif akan meminimalisasi munculnya kesulitan belajar dalam diri siswa.  Berkurangnya kesulitan belajar inilah yang pada akhirnya memungkinkan siswa untuk mendapatkan penguasaan akademik yang lebih baik.  Dari sini, nampak bahwa konsep diri positif menjadi pemacu keberhasilan akademik.  Meskipun demikian, menarik untuk mencermati penemuan Yan dan Haibui (2005) yang mengungkapkan bahwa anehnya pada anak-anak yang berbakat atau mempunyai kemampuan akademik yang mengagumkan, didapatkan konsep diri negatif meski tidak signifikan.   Menurut Syah (2007), siswa yang sangat cerdas dapat mempunyai konsep diri yang negatif yang ditandai dengan munculnya kesulitan belajar dikarenakan tuntutan keingintahuannya dirasakan tidak diperlakukan secara adil.

2.    Konsep diri dan pembentukannya dalam aktivitas belajar
Melihat besarnya pengaruh konsep diri terhadap keberhasilan seseorang, tak heran jika sekolah-sekolah berrupaya untuk mengintegrasikan pembentukan konsep diri ke dalam aktivitas belajar mengajar di dalam dan di luar kelas.  Aktivitas sekolah terkait dengan pembentukan konsep diri dilakukan sepanjang masa belajar dari tingkat dasar sampai jenjang pendidikan tinggi, sebagaimana yang diungkapkan Cotton (1993), meskipun, O’Mara dkk (2006) menyebutkan bahwa intervensi guru dalam aktivtas kelas untuk pembentukan konsep diri memberikan respon paling nyata ketika siswa berada pada masa sekolah menengah dimana siswa pada usia ini memiliki keterlibatan paling tinggi dalam aktivias kelas dibandingkan dengan rekannya yang lebih muda di sekolah dasar ataupun yang lebih tua di perguruan tinggi. 
 Germer  (1974), Cotton (1993), dan O’Mara dkk (2006) menyatakan bahwa guru memegang peranan kunci dalam aktivitas kelas, dan karenanya kesadaran guru terhadap pentingnya pembentukan konsep diri akan menentukan seberapa jauh pembentukan konsep diri dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas belajar mengajar.  Bagaimanakah aktivitas belajar mengajar dapat menjadi media pembentukan konsep diri? Germer (1974) menyatakan bahwa aktivitas kelas yang memungkinkan komunikasi dan partisipasi guru – siswa dan siswa – siswa secara lebih aktif,  akan membantu siswa menjadi individu yang terbuka dan menerima diri sendiri dengan lebih baik sehingga memacu pembentukan konsep diri positif, menjadi individu yang lebih mampu “mendengar”, merasakan, menghormati, dan menciptakan komunikasi yang lebih terbuka dengan yang lain. 
Secara lebih spesifik, Cotton (1993) menguraikan program pengembangan konsep diri anak dilakukan pada basis yang berbeda, dari mulai kelas, sekolah sampai wilayah.  Cotton menyatakan bahwa pembentukan konsep diri di dalam kelas dilakukan dengan memberikan tugas berbasis kelompok dan berorientasi kepada pengembangan kemampuan afektif siswa, serta penggunaan umpan balik terhadap kemajuan pembelajaran siswa, dan mengupayakan partisipasi aktif dan komunikasi yang terbuka antara guru – murid – walimurid.  Ke semua hal tersebut dilakukan melalui berbagai kegiatan kelas seperti rotasi teman sebangku, pembuatan papan apresiasi siswa terhadap siswa yang lain sekaligus pengisian papan pernyataan penyesalan atas kesalahan yang diperbuat siswa terhadap siswa yang lain, pendampingan siswa korban narkoba, pengajaran ketrampilan hidup, penunjukan relawan sebaya sebagai tutor dalam belajar,  serta penguatan kemampuan matematika dan bahasa siswa.  Program yang dilakukan secara kontinyu tersebut, menghasilkan perubahan positif dalam diri siswa seperti penurunan angka drop out, peningkatan kehadiran siswa, penurunan kegagalan siswa dalam mata pelajaran, dan meningkatnya rasa kepedulian siswa terhadap lainnya.









BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya. Dimensi konsep diri adalah tentang bagaimana harapan terhadap diri anda?, pengetahuan anda?, dan penilaian anda terhadap diri sendiri?.
Apabila seseorang dapat mengkonsep dirinya dengan baik, maka ia akan melakukan segala hal yang bermanfaat bagi dirinya dalam rangka mengembangkan segala potensi dalam dirinya. Apabila seseorang tak dapat mengkonsep dirinya dengan baik, maka secara psikologi, jiwanya akan terganggu dan tidak dapat mempergunakan kemampuan dalam dirinya dengan baik.
Seorang remaja yang masih cenderung labil harus mendapatkan kebahagiaan yang cukup serta berhak mendapatkan kebutuhan yang ia perlukan agar ia dapat merasakan kebahagiaan, karena kebahagiaan merupakan sarana utama agar seseorang dapat mengkonsep dirinya sendiri dengan baik, dan selanjutnya dapat mengembangkan potensinya dalam dirinya yang dimulai dari usia remaja.
Germer dan Yager, menyimpulkan bahwa dengan konsep diri positif akan meminimalisasi munculnya kesulitan belajar dalam diri siswa.  Berkurangnya kesulitan belajar inilah yang pada akhirnya memungkinkan siswa untuk mendapatkan penguasaan akademik yang lebih baik.
B.  Saran
Sebagai seorang pendidik, kita harus berusaha membantu anak didik kita dalam memahami bahan pokok isi ajaran materi yang akan disampaikan. Kita juga dituntut untuk menjadi orang tua kedua yang dapat membimbing siswa mencapai kompetensi yang optimal agar mereka mampu mengkonsep dirinya dengan baik dan menjadi individu yang benar-benar berkualitas.



DAFTAR PUSTAKA

1.    Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan.Jakarta : Erlangga.
3.    http://immuda-immuda.blogspot.com/2010/06/konsep-diri-memiliki-tiga-dimensi.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar