Kamis, 23 Februari 2012

Mengapa Kita Bermimpi?


Mengapa dan bagaimana kita bermimpi? Apa yang terjadi dengan tubuh kita saat itu? Dapatkah manusia mengendalikan mimpinya? Seperti Leonardo DiCaprio dalam film “inception”? Mungkinkah hal tersebut terjadi? Salah satu periset mimpi kelas internasional, Prof. Michael Schredl yang mengepalai Laboratorium Tidur dari Institut Kesehatan Jiwa (Universitas Mannheim) menjawab beberapa tematik seputar mimpi. Berikut ini beberapa cuplikan dari bukunya setebal 297 halaman dengan judul “Träume - Die Wissenschaft enträtselt unser nächtliches Kopfkino” (Mimpi-mimpi, Ilmu Pengetahuan Menyingkap Bioskop Malam di Kepala Kita), ISBN-10 3550086911 dan ISBN-13 9783550086915.

A.   Apa yang kita impikan?
Secara umum: kejadian riil. Tapi bisa juga dalam simbol. Contoh: ketika Anda punya masalah di tempat kerja, bertengkar dengan atasan atau teman sekerja. Malam harinya Anda bermimpi sedang berada di suatau tempat di mana terjadi gempa bumi. Segala sesuatu di sekitar Anda berantakan.

B.   Mengapa kita mimpi?
Pada waktu tidur, hanya tubuh yang beristirahat. Otak tidak. Otak bekerja tanpa henti. Saat tubuh tidur, otak menggunakan waktu tersebut untuk memroses kejadian saat sadar (sebelum tidur). Otak menilai dan menyimpan peristiwa keseharian kita.

C.   Apakah mimpi itu pemberi petunjuk tertentu?
Ya, namun bukan dalam arti canayang atau nubuatan. Mimpi itu bagai kaca pembesar. Mimpi menunjukkan pada kita masalah nyata, misalnya soal job atau pacar. Atau kekhawatiran. Semua itu dalam mimpi ditampilkan lewat gambar atau tayangan drastis, yang seolah lebih diperbesar lagi.

D.   Mengapa kita cuma ingat akan mimpi tertentu?
Semakin lama dan intensiv tidur kita, semakin bagus kita bisa mengingat mimpi apa. Jika kita bangun dari tidur gara-gara dering weker, maka kita bakal sulit mengingat mimpi yang telah terjadi. Jika kita bisa bangun siang tanpa beban, misalnya saat hari libur, maka kita bisa lebih baik mengingat mimpi. Mimpi negatif lebih mudah disimpan ketimbang mimpi hal-hal yang positif.

E.   Apa sih faedah mimpi?
Penelitian masih belum bisa memastikan, apakah mimpi punya manfaat tertentu. Satu yang sudah pasti, tidur itu penting bagi memori manusia. Bagai komputer, saat tidur itulah otak melakukan pengamanan data dan/atau informasi.

F.    Dapatkah kita mempengaruhi mimpi kita?
Ya, tapi hanya manusia tertentu saja yang mampu melakukannya. Lewat meditasi. Manusia yang terbiasa bermeditasi dapat mempengaruhi mimpi mereka dengan gampang. Kita yang tidak terbiasa bermeditasi, hampir tak mungkin mampu menentukan jalannya sang mimpi. Memaksakan diri dijamin tidak akan berhasil, misalnya konsentrasi akan hal tertentu 5 menit sebelum tidur. Karena otak kita memroses peristiwa sehari-hari yang dialami dan bukan apa-apa yang kita pikir 5 menit sebelum tidur.

G.  Kapan kita mimpi?
Waktu paling intensif saat mimpi adalah di fase REM (Rapid Eye Movement). Dinyatakan oleh gerakan cepat sang bola mata. Umumnya waktu dini hari, sebelum bangun. Mimpi yang terjadi pada saat inilah yang dapat paling banyak kita ingat. Kita tidak ingat akan mimpi sebelumnya.

H.  Dapatkah kita melanjutkan mimpi, setelah terjaga sejenak?
Hanya segelintir manusia yang mampu melakukannya. Umumnya oleh mereka yang terbiasa melakukan meditasi atau doa yang hening. Secara umum mimpi berikutnya adalah mimpi hal lain.

I.      Bagaimana mengartikan mimpi?
Mimpi sulit sekali diartikan, karena ia itu individual dan tidak jelas. Masalah seseorang bagi manusia lain akan menjadi problem baru yang tidak sama.

J.     Mengapa anak-anak lebih sering mimpi dibanding orang dewasa?
Anak-anak belum terbiasa membedakan kejadian nyata dengan perasaan yang kadang bercampur fiksi. Khayalan dan kenyataan lebih sulit dibedakan oleh anak-anak ketimbang manusia dewasa. Oleh sebab itu otak anak-anak harus bekerja lebih keras untuk memroses peristiwa keseharian.

K.  Apa ada pola mimpi yang kerap datang kembali?
Ya. Misalnya saat sedang ujian, telanjang bulat di muka umum, datang terlambat, dikejar-kejar, jatuh dari ketinggian, dan tenggelam. Karena itu penting sekali untuk mengedepankan pola dasar sebagai titik utama untuk mengartikan sebuah mimpi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar